Reuni Alumni 212 Penegakan Syariah atau Tunggangan Syiyasah

Gerakan 212 adalah gerakan yang dibangun atas dasar untuk tegaknya hukum pada tahun 2016 yang berawal dari kasus penghinaan terhadap agama islam yang dilakukam  oleh Basuki Cahaya Purnama selaku Gubernur DKI Jakarta akif waktu yang menyampaikan statemen terkait milih pemimpin yang menguktip ayat Al Maidah, atas perbuatan ini umat Islam merasa disakiti dan melaporkan Ahok nama akrab Basuki Cahaya Purnama, proses penegakan hukum yang lamban membuat umat Islam terusik dan merasa terpanggil untuk melakukan aksi yang bertujuan untuk menekan aparat hukum untuk menjatuhkan hukuman kepada Ahok, pada tanggal 2 Desember 2016 digelarlah aksi 212 yang bertempat di Tugu Monumen Nasional Jakarta, pasca aksi 212 digelar akhirnya keinginan umat Islam terijabah penghina agama pun di hukum selama dua tahun.

Sering dengan berjalannya waktu gerakan 212 diorganisir betul para alumninya meskipun para alumni aksi 212 tidak semuanya ikut dalam perhimpunan yang masih menjaga eksistesi para alumni 212 tersebut, terbukti di tahun pertama reuni 212 yang diadakan tahun 2017 tidak sebanyak seperti di aksi 212 tahun 2016, sebagian para alumni yang ikut dalam aksi 212 tahun 2016 menanggap bahwa gerakan 212 sudah selesai sebab yang menjadi tuntutannya sudah dikabulkan. Namun banyak pula yang masih bertahan dan ikut berhimpunan dalam alumni 212 karena menurut mereka dari aksi 212 itulah mereka bisa menyambung silaturahmi dengan umat muslim dan mengawal tegaknya hukum dan syariah Allah SWT.

Genap dua tahun sudah aksi 212 dilaksanakan memontum yang sangat jarang ditemukan diberbagai negara bahkan mungkin hanya satu-satunya di Indonesia, dimana masyarakat muslim berkumpul bersatu tanpa diiming-imingi apapun, upaya untuk mengenang peristiwa aksi 212 tersebut dilakukan peringatan semacam reuni yang berisi istiqosah bersama, sholat subuh berjamaah, dan tausiyah-tausyiah dari ulama yang  ikut dalam reuni tersebut, besok merupakan hari yang bersejarah bagi alumni 212 sebagai upaya mengenang dan mengingat peristiwa tersebut akan diadakan reuni alumni 212 untuk kedua kalinya di tempat yang sama waktu aksi 212, yaitu di tugu Munomen Nasional Jakarta.

Reuni ini menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat, pasalnya reuni alumni 212 menurut alumni 212 menyatakan bahwa reuni yang akan dilaksanakan besok sudah tidak murni lagi sebagai gerakan silaturahmi dan penegakan syariah Islam justru cenderung ditunggangi kepentingan politik salah satu calon presiden, hal ini dibuktikan dengan diundangnya pasangan calon presiden daan wakil nomer urut 2 pasangan Probowo-Sandiaga Uno Shalahuddin untuk hadir dalam reuni alumni tersebut, sedangkan calon presiden pasangan nomer urut 1 tidak diundang dengan alasan kurang pantas seperti diungkapkan oleh Slamet Maarif waktu diwawancarai oleh CCN Indonesia.

Akankah reuni 212 besok merupakan agenda kampaye terselubung yang berkedok reuni alumni 212, Kapitra selaku alumni 212 menyatakan bahwa sebenarnya acara reuni 212 ditunggangi politik, sebab tujuan dari 212 sudah selesai dan tidak ada tujuan lain, apabila ada kegiatan atas nama reuni 212 sebenarnya merupakan agenda yang berbeda bahkan hanya siasat saja agar bisa mendulang suara dari umat muslim se Indonesia. Sangat disayangkan sebenarnya apabila pernyataan-pernyataan yang dinyatakan oleh beberapa tokoh terkait dijadikannnya momen reuni alumni 212 sebagai kuda untuk menuju kekuaan, tindakkan seperti ini kurang baik karena agama seolah dijadikan alat untuk mencapai kepentingan dan kekuasaan, seharusnya agama bukan dijadikan alat tetapi sebagai pedoman dalam kehidupan baik itu urusan ekonomi, hukum, atau bahkan politik.

 

Pious Beni Muhammad

SMA Tahfidz Duba

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.