Presiden Baru Indonesia; Antara Ikhtiyar dan Takdir

Oleh: Nurul Hadi

*Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Madura*

Tahapan pemilu (Pemilihan Umum) hampir selesai. Kita baru saja melalui pemungutan suara (17/04/2019) di TPS (Tempat Pemungutan Suara) seluruh Indonesia dan seluruh warga negara Indonesia di luar negri. Proses panjang dan melelahkan telah dilalui kita sebagai bangsa Indonesia. Pemilu ini -tentu saja- bukan hanya untuk mendapatkan sosok presiden Indonesia semata, tetapi lebih dari itu, tujuan kita adalah terwujudnya Indonesia sebagai bangsa yang baik dan sejalan dengan prinsip-prinsip ketuhanan yang Maha Esa.

Untuk mewujudkan tujuan mulia ini, Indonesia melakukan ikhtiyar. Ada rumusan undang-undang (UU) pemilu yang menjadi blue print proses mendapatkan pemimipin bangsa. UU pemilu sendiri telah melalui tahapan panjang agar menjadi konsensus nasional. Seluruh elemen bangsa terlibat dalam perumusan dan pengesahan UU ini melalui perwakilannya di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Setelah UU pemilu berhasil disepakati, bangsa ini mempercayakan proses pemilu kepada panitia nasional -sesuai amanat UU- yang disebut dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Proses pembentukan KPU juga panjang, melalui tahapan-tahapan yang tidak sederhana. Tahapan itu mulai pembentukan tim seleksi KPU, proses sosialisasi, pendaftaran, seleksi administrasi, pelaksanaan tes, dan penetapan komisioner KPU.

Lalu, KPU terpilih mulai bekerja; menjalankan amanah UU pemilu. Banyak tahapan yang harus dilalui. Masing-masing tahapan membutuhkan waktu dan proses panjang. Diawali dengan verifikasi partai selaku lembaga politik yang disepakati sebagai satu-satunya institusi yang sah untuk mencalonkan presiden Indonesia.

Kemudian, partai sah yang ditetapkan KPU melakukan proses pemilihan calon presiden. Pada proses ini, lagi-lagi tidak sederhana. Ikhtiyar bangsa untuk mendapatkan calon presiden begitu banyak proses yang dilakukan. Tidak sedikit dana, tenaga, pikiran dan gengsi terkuras sampai terpilihlah sang calon presiden itu.

Pada saat calon presiden ditetapkan oleh KPU, proses selanjutnya adalah tahapan pemilu itu sendiri. Kali ini, proses seleksi dilakukan oleh rakyat Indonesia. Rakyat berpikir panjang untuk memastikan pemimpin terbaik mereka dari pilihan calon yang ada. Rakyat membedah visi dan misi yang diusung calon-calon pemimpin mereka. Bahkan, kehidupan privasi mereka pun tak luput dari sasaran bedah calon pemimpin. Sekali lagi, proses ini tak kalah panjangnya.

Akhirnya, Rakyat Indonesia memilih presiden Indonesia melalui pemungutan suara di TPS. Penentuan pilihan rakyat memang tidak semua berjalan mulus. Ada banyak faktor yang menjadi motivasi di balik pilihan rakyat tersebut. Tetapi, apapun motivasinya, ikhtiyar bangsa telah dilalui dengan seksama dan sangat panjang.

Kini, saatnya bangsa Indonesia menunggu takdir. Karena memang, takdir itu hakikatnya adalah nilai akhir. Akhir dari ikhtiyar panjang proses pemilihan pemimpin bangsa. Secara logika, semakin bagus ikhtiyar yang dijalankan semakin baik hasil akhir yang didapatkan. Maka, semakin sadar bangsa ini untuk melakukan proses ikhtiyar pemilihan presiden dengan sebaik-baiknya, semakin baik pula Indonesia memiliki pemimpinnya.

Namun, sekarang semua proses itu telah kita lalui. Merubah ikhtiyar yang sudah terlanjur kita lakukan adalah mustahil. Satu-satunya jalan kita saat selaku bangsa adalah tawakkal. Menyerahkan akhir dari ikhtiyar pemilihan presiden ini kepada Allah Swt. Sembari berdoa, semoga presiden Indonesia terpilih nanti adalah pemimpin Indonesia menuju bangsa yang adil, makmur dan sejahtera. Yaitu baldatun thayyibatun wa rabbun ghofur. Wallahu a’lam.

 

Pyt_Kirom_medianarasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.