Perlukah Adanya Rumah Sakit Syariah di Indonesia?

Sejarah Berdirinya Rumah Sakit Syariah Pada awal tahun 2017 dunia kesehatan atau medis di Indonesia dihebohkan dengan hadirnya rumah sakit berstandar dan berbasis syariah atau lebih akrab disebut dengan rumah sakit (RS) syariah. Dan di tahun tersebut, juga diresmikan rumah sakit syariah pertama di Indonesia yaitu Rumah Sakit Islam (RSI) Sultan Agung Semarang. Dengan diresmikannya RSI Sultan Agung Semarang banyak menuai pro dan kontra dikalangan masyarakat khususnya di kalangan non muslim. Dan ada pula yang menyebutnya sebagai diskriminasi bagi umat non muslim.

Penggagas berdirinya rumah sakit (RS) syariah dicanangkan oleh Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (MUKISI) yang bekerja sama dengan para cendikiawan muslim dan Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI). MUKISI selaku ketua penghimpun rumah sakit umum, islam dan swasta yang ingin merubah status rumah sakitnya menjadi RS syariah, dimana MUKISI akan memberikan pendampingan dan pengarahan untuk mempermudah mendapatkan sertifikasi syariah untuk rumah sakit tersebut. Sedangkan tugas dari DSN MUI sebagai pegawas baik dari segi pelayanan, pengobatan serta sebagai pembuat dan pengatur regulasi. MUKISI terdorong mendirikan rumah sakit (RS) syariah karena dilatar belakangi oleh adanya pelecahan seksual dan tindakan asusila yang sering terjadi terhadap pasien umumnya kaum hawa. Pelecehan tersebut dilakukan oleh pegawai rumah sakit umum ataupun swasta yang terjadi pada tahun 2015. Untuk mengurangi kekhawatiran dan ketakutan masyarakat khususnya pasien perempuan, tahun 2017 MUKISI bertekad untuk mendirikan rumah sakit (RS) syariah di Indonesia.

Pengertian rumah sakit syariah
Menurut kemenkes (2009), rumah sakit adalah pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Berbeda hal nya dengan pengertian rumah sakit (RS) syariah, yang mana merupakan rumah sakit yang dalam pengelolaannya mendasarkan pada maqashid syariah (tujuan diadakannya syariah) yaitu seperti penjagaan agama, jiwa, keturunan, akal dan penjagaan harta. Rumah sakit dengan label syariah memiliki tanggung jawab yang lebih, karena tidak hanya sekedar memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien (Ayuningtyas,2008).

Perbedaan Rumah Sakit Umum Vs Rumah Sakit Syariah

Mayoritas penduduk Indonesia beragama islam sehingga masyarakat non muslim yang sebagai agaman minoritas. Kemudian dengan hadirnya rumah sakit (RS) syariah tersebut, merekapun merasa ter- intimidasi dengan diresmikannya RS Syariah pertama di Indonesia berdirinya. Yang sebenarnya pelayanan medis yang diterapkan di rumah sakit (RS) syariah tidak hanya melayani masyarakat yang beragama islam saja. Melainkan, juga melayani masyarakat non muslim, hanya saja perlakuan (pelayanan) yang akan didapat berbeda. Alasan Intimidasi tersebut diperkuat karena adanya perbedaan pelayanan pasien dan pengelolaan keuangan rumah sakit.

Pertama, Rumah sakit (RS) syariah memiliki sistem pelayanan pasien yang sesuai dengan ajaran islam. Dan terdiri dari pembacaan basmalah pada pemberian obat dan tindakan, mengingatkan waktu sholat, pemakaian hijab atau kerudung untuk pasien perempuan baik diwaktu menyusui maupun diruang operasi, bimbingan shalat dan talqin bagi pasien, pemasangan Elektrokardioram (EKG) sesuai gender atau kelamin, jadwal operasi tidak terbentur waktu sholat serta memandikan dan men sholatkan jenazah. Kedua, pengelolaan dana keuangan rumah sakit (RS) syariah, yang mana menggunakan lembaga keuangan syariah dalam upaya penyelenggaraan rumah sakit. Dan juga rumah sakit (RS) syariah mempunyai unit pengumpulan zakat, infak dan sedekah yang berfungsi sebagai pengelola yang diperoleh dari dokter, perawat pegawai dan pasien. Dalam pembukuan laporan keuangan RS Syariah dibuat mengikuti PSAK Syariah yang diawasi oleh Dewan Standar Akuntansi Syariah (DSAK) dan berada dibawah naungan Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI).

Sistem pelayanan medis dan pengelolan dana keuangan di rumah sakit umum. Menurut Kementerian Kesehatan (2015), sistem pelayanan pasien di rumah sakit umum memiliki dua macam, yakni pelayanan medis dan pelayanan penunjang medis. Pelayanan medis adalah pelayanan yang bersifat individu yang diberikan oleh tenaga medis dan perawat berupa pemeriksaan, pelayanan konsultasi dan tindakan. Sedangkan pelayanan penunjang medis adalah pelayanan kepada pasien untuk membantu penegakan diagnosis, terapi, dan penunjang lainnya. Jenis pelayanan medis terdiri dari pemeriksaan dan pelayanan konsultasi, visite dan pelayanan konsultasi, tindakan operatif dan non operatif dan persalinan. Untuk jenis pelayanan penunjang medis terdiri dari berbagai berikut. Yaitu pelayanan laboratorium, radiodiagnostik, diagnostik elektromedis, diagnostik khusus, rehabilitasi medis, pelayanan darah, farmasi dan gizi, pemulasaraan jenazah dan pelayanan penunjang medis lainnya. Menteri Keuangan (2008) dan Kementerian Kesehatan (2010), rumah sakit merupakan termasuk Badan Layanan Umum (BLU) milik pemerintah, sehingga pada pengelolaan keaungannya menggunakan PSAK no 45 untuk organsisai nirlaba.

Jenis Rumah Sakit Syariah di Indonesia
Rumah sakit (RS) syariah muncul untuk memberikan warna dan pelayanan kesehatan terbaru pada masyarakat Indonesia khususnya masyarakat muslim yang berprinsip pada ajaran islam. Serta adanya RS Syariah untuk mengurangi kekhawatiran dan ketakutan masyarakat akan terjadinya pelecehan seksual yang kerap menimpa pasien perempuan. Selanjutnya, rumah sakit (RS) syariah merupakan kebutuhan umat muslim dibidang layanan jasa kesehatan di Indonesia. Masyhudi, AM, M.Kes, selaku Ketua MUKISI memaparkan bahwa pada tahun 2019, rumah sakit (RS) syariah mengalami peningkatan yang jumlahnya sebanyak 40 rumah sakit. Terdiri dari 20 rumah sakit yang telah bersertifikasi syariah dan sisanya masih dalam tahap pendampingan, pra survei, dan lainnya oleh DSN MUI dan MUKISI.

Rumah Sakit Islam (RSI) Sultan Agung Semarang adalah rumah sakit syariah pertama di Indonesia dan diresmikan di tahun 2017. Kemudian disusul oleh RS Muhammadiyah Lamonganya yang berhasil lolos dan mendapatkan sertifikasi rumah sakit syariah ditahun 2018 serta merupakan satu – satunya rumah sakit bersertifikasi syariah di daerah Jawa Timur.

Selanjutnya sertifikasi syariah juga diterima oleh beberapa rumah sakit. Diantaranya, yakni RS Nur Hidayah Bantul Yogyakarta, RS PKU Muhammadiyah Wonosobo, RS Islam Sari Asih Ar Rahman Tangerangn, RS Sari Asih Ciledug Tangerang, RS Sari Asih Sangiang Tangerang, RS Awal Sehat Wonogiri, RS Islam Yogyakarta PDHI Yogyakarta, RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dan lain –lain. Menurut pengakuan ketua MUKISI tersebut, Indonesia ditargetkan memiliki rumah sakit syariah sebanyak 500 unit yang tersebar diseluruh nusantara baik rumah sakit umum dan swasta. Serta KH.Ma’ruf Amin selaku ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) berharap dengan banyak berdirinya RS Syariah mampu mewujudkan dan meningkatkan industri halal di Indonesia khususnya dibagian indutri jasa dan mampu membuat halal sebagai gaya hidup atau sering disebut halal life style.

Perlu di adakannya rumah sakit (RS) syariah di Indonesia untuk melaksanan prinsip ekonomi dibidang yang tidak hanya terletak pada makanan dan obat- obatan bersertifikasi halal. Melainkan juga, seperti jasa pada pelayanan kesehatan pasien juga sesuai dengan syariah islam. Selanjutnya untuk meningkatkan perekonomian melalui transaksi akad dan jual beli syariah, dan untuk menanamkan prinsip ekonomi islam pada masyarakat Indonesia serta dapat terciptanya halal life style sebagai gaya hidup dan mendunia.

Nama : Hafifatul Masruroh

NIM : 170221100108

#Robiatul_Auliyah (Dosen Entitas dan Intrumen Keuangan Syariah)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.