PEMUDA DESA BISA APA…???

Perang kontestasi dualisme merupakan kebutuhan bagi setiap manusia, khususnya untuk kaum-kaum intlektual. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menggali potensi tersebut, salah satunya dengan membaca buku, nimbrung di warung kopi, diskusi, dan berorganisasi.

 

Organisasi merupakan alam yang akan memproduksi setiap individu dalam menata berbagai dinamika yang akan dihadapi, salah satunya adalah FORUM MAHASISWA SAMPANG. Yang akan mewadahi temen-temen khususnya dari kota sampang, bukan hanya itu saja, organisasi Formasa juga merangkul teman-teman yang memiliki bakat dan minat dalam semua elemen.

 

Formasa merupakan pilihan bijak bagi mahasiswa dari sampang, dalam menyelesaikan setiap persoalan bersangkutan dengan jati dirinya. Hal ini dibuktikan dengan beberapa program, Seperti, kajian, evaluasi, rujak-rujak intlektual dan ngopi. Semua itu dilakukan guna menumbuhkan intelegensi kita, katanya sampang adalah kabupaten yang paling miskin dalam segala lini.

 

Hari ini Formasa mengkaji tentang mahasiswa berdomisili dari desa, yang di justice tidak memiliki ruh ruh intelektual. Kajian rutinitas itu di isi oleh sang motifator handal, sama-sama  berjuang  dari desa, tema yang kami angkat adalah “Pemuda desa bisa apa”. Sekitar 2 jam,  kita dihipnotis oleh sang pemateri mengenai bagaimana mahasiswa  dari desa menjadi pendobrak dalam gerakan-gerakan terpelajar.

 

Meskipun kita semua memahami tipikal masyarakat desa adalah primitif, dan itu menjadi tantangan besar bagi kita sebagai mahasiswa. Masyarakat desa, tidak pernah menanyakan  apakah IP kita tinggi atau tidak, mereka hanya ingin melihat bagaimana kita menjadi patron dalam menyelesaikan setiap problem, seperti ketika  ingin membuat KTP, SIM AKTE dll. Dari situlah mahasiswa yang berangkat dari desa membuktikan marwahnya sebagai agen of change.

 

Dari hal kecil seperti itu, kita bisa memupuk dan meyakinkan masyarakat kalau mahasiswa bukan hanya sebagai formalitas, yang menghabiskan uang dengan tujuan tidak jelas. Akan tetapi mampu memberikan bukti, dengan apa yang kita dapat di ranah kampus, dan organisasi. Orang-orang desa tidak membutuhkan sebuah teori, mereka membutuhkan terobosan-terobosan baru untuk kesejahteraan mereka semua.

 

Dalam aspek ini pemuda khususnya,( mahasiswa),wajib menjadi konseptor, serta fasilitator guna menyelaraskan kebutuhannya. Untuk menjadi seorang konseptor, tidak dapat diraih kalau kita tidak bisa berperang, dan keluar dari comfertable zone. Apalagi dalam tipikal proses, kalian menjadi orang yang pragmatis dan apatis. Kemungkinan besar kita  akan menjadi sampah masyarakat, dan melunturkan niat setiap orang tu untuk melanjutkan anaknya ke jenjang perguruan tinggi.

 

Apakah hal ini yang akan kita lakukan? Ataukah kita akan menjadi pemuda yang memiliki faham apatis! Sudahkah kita memiliki konsep, untuk di siapkan ketika bersentuhan langsung terhadap masyarakat klasikal? Kalau sudah terkonsep dalam otak kita, kapankah itu akan kita mulai.??

 

Aziz (Mahasiswa Semester 5 IAIN Madura)