GADIS KECIL DI BORDES KERETA

oleh : Moh. Fahri

Mahasiswa ISI Yogyakarta

Pagi itu, kabut turun berduyun membawa duka dari alam.
Segala kekacauanpun berarak, laksana awan yang bergelombang ditelan masa.
Kabut menenggelamkan desaku, “harus kemanakah aku bergegas” jika hati masih berselimut ketidak sadaran.
Aku mulai bingung dengan napas yang masih mengembun ini.
Dan jejak yang saya risaukan, “ hendak kemanakah saya” mungkin saya harus diam, sambil mengetok pelan lengan kursi yang sedang saya duduki ini.
Seketika kabut terdiam, entahlah, apakah ini sudah malam, sebab hati tak merasakan keadaan, kemudian saya lanjutkan perbincangan saya dengan kursi ini, bercerita tentang keadaan, dan gadis kecil yang menahan perutnya di setiap paginya.
Saya mulai mengerti dengan semua ini, sebab kabut sedang berduka, tak tega menjadi saksi dari tangisan gadis yang mulai sayu matanya.
Gadis itu menahan kegelisahan, dari setiap detik obrolan orang yang enggan mengulurkan tangan padanya. Ia makin tertunduk, dan makin memeluk erat tubuhnya yang lusuh itu. Saya terdiam lagi, dan menyesali segala sesuatu yang saya lewatkan.

Pendabah, bangkalan madura

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.