Muhammadiyah dan NU: Tandatangani Pernyataan Demokrasi dan Toleransi

Medianarasi.com – Jakarta. Dua Pimpinan organisasi besar melakukan pertemuan, yakni Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj menyambangi Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir di kantor PP Muhammadiyah.

Pertemuan dua organisasi Islam terbesar tersebut sepakat melakukan kerja sama dalam bidang pendidikan, hingga kesehatan. Haidar Nasir selaku ketua Umum PP Muhammadiyah di Gedung Muhammadiyah, Jakarta Pusat, mengatakan , kita ingin membangun ta’awun kerja sama yang lebih aktif antara Muhammadiyah dan NU. Kita masing-masing punya usaha spesifik di mana NU kuat di pondok pesantren Muhammadiyah kuat di pendidikan umum dan kesehatan, sekarang (kami) sama-sama bergerak.

 

Pertemuan menyepakati 4 poin penting. 
1. Muhammadiyah dan NU berkomitmen kuat menegakkan keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan atas Pancasila sebagai bentuk dan sistem kenegaraan yang Islami. Muhammdiyah dan NU akan menguatkan, memperluas kebersamaan dengan seluruh komponen bangsa dalam meneguhkan integrasi nasional dalam suasana yang damai, persaudaraan, dan saling berbagi untuk persatuan dan kemajuan bangsa;
2. Muhammadiyah dan NU mendukung sistem demokrasi dan proses demokratisasi sebagai mekanisme politik kenegaraan, seleksi kepemimpinan nasional yang dilaksanakan dengan profesional, konstitusional, adil, jujur, dan berkeadaban. Semua pihak agar mendukung proses demokrasi yang substantif serta bebas dari politik yang koruptif dan transaksional demi tegaknya kehidupan politik yang dijiwai nilai-nilai Agama, Pancasila, dan kebudayaan luhur Indonesia.
dua pernyataan ini dibacakan oleh Sekjen PBNU Helmy Faishal, dua penyataan lainnya dibacakan oleh Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti yang berisi:
1. NU dan Muhammadiyah akan bekerja sama mencerdaskan kehidupan bangsa. Di tahun politik ini, NU dan Muhammadiyaj juga meminta masyarakat menjaga toleransi di tengah perbedaan pilihan,
2. mengedepankan kearifan, kedamaian, toleransi, dan kebersamaan di tengah perbedaan pilihan politik. Kontestasi politik diharapkan berlangsung damai, cerdas, dewasa, serta menjunjung tinggi keadaban serta kepentingan bangsa dan negar 
Selanjutnya, NU dan Muhammadiyah juga akan mendukung proses demokrasi yang bebas dari politik koruptif dan transaksional. NU dan Muhammadiyah berharap dalam pemilihan pemimpin berlangsung secara profesional dan konstitusional. NU dan Muhammadiyah, kata Mu’ti, juga berharap tak ada permusuhan di antara masyarakat, hingga sikap saling menjatuhkan antara peserta pemilu di tahuk politik.
“Hindari sikap saling bermusuhan dan saling menjatuhkan yang dapat merugikan kehidupan bersama. Kami percaya rakyat dan para elite Indonesia makin cerdas, santun, dan dewasa dalam berpolitik,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.