Masyarakat Madura di Pusaran Politik Praktis Antara Membela dan Kehilangan Etika

nama saya zainal, saya mahasiswa di salah satu universitas islam di wilayah Jawa Timur. saya merasa prihatin dengan kondisi masyarakat hari ini, khususnya masyarakat yang berada di Madura. kondisi politik yang kian hari semakin memanas membuat emosi para pendukung dari masing-masing calon, semua saling menyalahkan, menertawakan, mencemoh, menghina, dan memuji sesama pendukung.

Tulisan ini saya buat waktu dalam perjalanan Yogyakarta ke Jawa Timur dalam suasana ramai dan berisiknya suara kereta api saya memulai diskusi dengan orang yang kelihatannya dari kalangan sederhana, kami mulai bercerita tentang kondisi politik indonesia hari ini, dimana para orang saling menghujat antara sesama. jauh sebelum saya berangkat ke Yogyakarta, saya sering ikuti diskusi di grup kumpulan orang madura yang biasanya bicara politik, share video berbau politik, bahkan menghujat karena tidak sama pandangan politik.

Sering saya dapati kata-kata kasar, menghina, mencaci maki dan ucapan buruk lainnya, madura dulu orang yang paling dikenal adat ketimurannya ( punya sopan santun yang baik) tepai melihat grup itu saya mengelus dada betapa buruknya efek politik praktis kepada masyarakat bawah.

berbeda Madura  berbeda juga di Yogyakarta, orang yang duduk di samping saya menceritakan bagaiamana kondisi masyarakat dan tanggapannya terhadap isu politik setalah Saya kasih umpan dengan pertanyaan” bagaimana kondisi politik di sini pak?” saya berharap jawabannya bisa wow gitu, tapi dia hanya menjawab datar aja ” biasa saja mas, kami akan lihat visi dan misinya mas, kalau bagus saya akan pilih”, kemudian saya tanyakan kembali ke bapak itu ” pak, bagaimana dengan isu agama itu?” jawaban kembali biasa saja ” mas, keduanya sama-sama beragama islam kenapa harus bawa-bawa agama? di para calon sama-sama ada ulamanya kenapa harus saling menghujat?, kalau saya mas penting di program aja”.

Saya melihat masyarakat di Jawa lebih sadar dan melek politik dan terbuka kepada semua calon, mereka begitu selektif dalam menilai tidak mau saling menjatuhkan apalagi menghina lawan dan pendudukungnya.

saya akui secara keilmuan selain ilmu agama jawa lebih kuat dari Madura sedangkan orang Madura kuat pengetahuan agamanya tapi lemah dalam keilmuan lain, makanya tidak salah apa yang dikatakan La nyala Mataliti di Televisi beberapa waktu lalu bahwa orang Madura kalau politik diberi isu agama akan digoreng isunya sampai selesai.

ironi melihat kondisi orang madura hari ini, ulama yang dulunya dihormati sekarang dihina karena merapat ke kubu pemerintah yang mereka benci bahkan dalam komentar facebook dia bukan lagi ulama kami, entahlah kemana etika menghormati guru atau ulama yang dulu mereka pelajari dari kitab az zarnuji itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.