Bringing the Fourth Industrial Revolution in Indonesia

Pertengahan tahun 2018 Pemerintahan jokowi meluncurkan road map persiapan Indonesia menghadapi revolusi industry ke 4. Diwakili oleh menteri perindustrian Airlangga Hartanto, menjelaskan bahwa pada tahun 2045 Indonesia dapat menjadi sebuah super power ekonomi baru di dunia. Langkah startegis tersebut merupakan dampak dari semakin gencarnya perubahan struktur social, dan juga pekerjaan yang diakibatkan oleh berkembangnya teknologi. 4th revolution industry sendiri dipaparkan oleh oleh Klaus Schwab dalam world economic forum, yang kemudian dinamakan 4th industrial revolution. Sebuah revolusi digital yang membawa manusia kepada machine age dan, dengan semakin berkembangnya AI (Artificial Intelligent) dikhawatirkan dapat mengurangi keterbutuhan tenaga kerja di masa depan.

Klaus Schwab memaparkan 4th industrial revolution berbeda dengan revolusi industry sebelumnya. Revolusi pada saat ini bergerak dengan sangat cepat dan bahkan para pakar tidak dapat memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan, karena perkembangan teknologi yang sangat cepat. 4th revolution industry akan melahirkan automation factory dan juga digitalization di berbagai aspek kehidupan social ekonomi. Beberapa industry tradisional pada saat ini telah digantikan dengan beberapa industry berbasis startup seperti yang terjadi di Silicon Valley. Keunikan lain dari revolusi ini yaitu, mulai hilangnya batas antara teknologi dengan studi biologi, dan dengan kecanggihan teknologi, hal ini dapat membantu manusia dalam mengatasi wabah penyakit, bahkan meningkatkan mortality age (usia kematian).

Walapun 4th Industrial revolution mempunyai keuntungan yang bias dinikmati terutama kepada pasar, ada beberapa hal yang menjadi sebuah kewaspadaan dari revolusi ini. Salah satunya yaitu mengenai labour force. Dalam membahas ini kita bias membaca kembali salah satu pernyataan dari John Maynard Keyness pada tahun 1931 mengatakan “due to our discovery of means of economising the use of labour outrunning the pace at which we can find new uses for labour”.  Perkembangan yang cepat dapat menghambat kemajuan ekonomi, dan bahkan dapat memnuat sebuah krisis ekonomi karena bertambahnya unemployment, karena labour force tidak dapat mengikuti kecepatan dari berkembangnya teknologi. Sehingga hal ini mengakibatkan hanya segelintir orang yang dapat menjadi bagian dari revolusi dan yang lain hanyalah consumer, dan kemudian elite minority dapat muncul karena capital gain yang didapat.

Indonesia sendiri merupakan sebuah Negara adidaya dengan ranking GDP urutan ke 16 dunia, tetapi data dari global competitive index, Indonesia menempati urutan ke 36 dunia. Walaupun telah naik 5 peringkat dari tahun lalu hal ini masih menjadi sebuah permasalahan mengingat Indonesia mempunyai 260 juta penduduk, sehingga pasti akan membebani sebuah perekonomian. Dalam laporan tersebut juga dipaparkan bagaimana Indonesia masih tertinggal dalam indikator kreativitas, dan sebagaimana kita tahu kreativitas merupakan salah satu factor utama dalam 4th Industrial Revolution. Namun dengan konstetasi politik di Indonesia pada saat ini, hal ini menjadi topic yang dikesampingkan, maka dari itu bagaimana Negara perlu dan mengkampanyekan 4th Industrial Revolution?, apa dan bagaimana peran pemuda dalam memasuki era revolusi ini? Distrupsi apa yang akan terjadi pada era 4th Industrial Revolution dan bagaimana hal ini dapat dicegah sebelum kalimat this is different and this is a problem muncul dari kondisi kebingungan kita. Dalam kajian ini akan dibahas mengenai apa itu 4th Industrial revolution dan bagaimana Indonesia dapat berperan dalam fase ini.

 

Rangga B Seto Aji

Undergraduate Student of International Relations Departement – Faculty of Social Political Science

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.