Mengasah Kemampuan Menulis Bagi Mahasiswa

Saya terinspirasi dengan seorang dosen yang pernah mengisi seminar tentang kepenulisan, beliau mengatakan. Mahasiswa hari ini jangan hanya menjadi konsumen pengetahuan tetapi jadilah produsen pengetahuan”  Ya. Jika mengambil istilah ilmu ekonomi. Mahasiswa adalah konsumen pengetahuan, dosen distributor pengetahuan dan doktor atau profesor adalah produsen pengetahuan.  Pada intinya narasumber tersebut menganjurkan mahasiswa untuk minimal punya satu karya tulis berupa buku. Baik fiksi atau non fiksi. Tapi bagaimana kita menanggapi pernyataan narasumber diatas? Jika kita sendiri tidak tahu dan tidak pernah mau menulis.  Okelah jangan basa-basi, Dibawah sedikit tips mungkin bisa membantu kita semua dalam belajar menulis.

foto: artikula.id

Catatan harian

Buatlah catatan harian, kita bisa menggunakan buku khusus untuk menulis aktifitas kita setiap  hari, bayangkan saja seandainya aktifitas kita sehari-hari dapat kita abadikan (tulis), maka tidak bisa kita bayangkan sudah berapa koleksi buku catatan yang kita simpan? Soe hok gie misalnya, Ia menulis catatan hariannya buku khusus, hingga tak jarang ketika Soe sudah meninggal catatan harian Soe diburu untuk diabadikan. Memang sih awalnya Soe hanya menulis aktifitas biasa saja, tapi seiring berkembangnya waktu dan nalar kritisnya sudah terasah, maka tidak mustahil jika tulisan-tulisannya disegani banyak orang, dan menganggap ia cendikiawan muda Indonesia.

Tulis ulang apa yang kita baca

Menulis ulang apa yang kita baca, dapat mengasah kemampuan berfikir, dan keterampilan menulis, apalagi dapat mengokohkan ilmu pengetahuan yang didapat. Jadi penting untuk menulis ulang baca’an kita, yah ibarat kata, mengikat ilmu dengan tulisan, tapi pastikan jangan copy paste, tulislah menggunakan bahasa kita sendiri.

Aktif menulis di media

Aktif menulis adalah bagian terpenting dalam mengasah keterampilan menulis, karena menulis adalah kegiatan mengimplementasikan dan menyalurkan isi pikiran.  Semakin sering kita menulis, semakin mudah bagi kita menjadi penulis. Kita bisa menulis di media massa  sperti koran, majalah, atau menggunakan media sosial sendiri, seperti WA, Facebook, Twitter, Ig, Telegram dan lain sebagainya untuk membantu kita dalam mengeluarkan isi pikiran. Atau kita gunakan website khusus untuk memaksakan kita konsisten menulis, misal buat blog sendiri atau menjadi wartawan freelance.

Banyak membaca

membaca membuat kita kaya akan bahasa, tanpa membaca tidak mungkin tulisan kita menjadi menarik. Penulis yang mampu menjabarkan isi pikirannya dengan baik, karena ia punya kebiasaan baca’an yang baik.

Jangan takut salah

Jangan hiraukan omongan orang, menulislah apa yang bisa kita tulis, jangan takut salah, karena seribu langkah lahir dari langkah pertama. Maka jangan takut salah menulis, biarlah salah, kesalahan terlahir karena kita sudah melakukan. hoke?

Bergabunglah dengan komunitas menulis

Virus kebaikan itu perlu kita cari, diri kita terbentuk karena lingkungan. Jika lingkungan memakan nasi, apakah kita akan doyan makan gandum? Tentu tidak, begitupun aktifitas menulis, seringlah berinteraksi dengan penulis atau mencari komunitas menulis untuk menambah virus semangat kita.

Ikutilah lomba-lomba menulis

Bagi mahasiswa, sudah sewajarnya mengikuti lomba-lomba menulis, karena menulis bagian dari menerapkan Tri Dharma perguruan tingi. Siyah, apa itu tri dharma ya?? Tri berarti tiga, Dharma berasal dari bahasa sangsakerta artinya kewajiban. Jadi, tri dharma adalah 3 kewajiban mahasiswa dalam berpendidikan diperguruan tinggi. Apa itu? Satu, pendidik, Dua, Pengabdi, dan terakhir, peneliti. Makanya di Indonesia kalau mau lulus harus melewati skripsi. Kenapa? karena menulis skripsi adalah bagian dari kewajiban mahasiswa.

Jadi kita bisa mengikuti lomba-lomba menulis baik ditingkat kampus, regional, atau nasional. Syukur-syukur bisa juara. Alhamdulillah. hehe

Oke, itu saja dari saya semoga bermanfaat.

 

kirom_medianarasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.