AGAMA BABI DAN KURMA

Sebagai santri, saya tidak pernah mendengar fatwa bahwa berak di bawah pohon kurma adalah bagian dari penistaan agama, membuang biji kurma ke tong sampah adalah bagian dari pelecehan terhadap agama, atau lebih jauh lagi, memasak babi pakai bumbu kurma dianggap menistakan Islam, tapi itu terjadi pada Taretan Muslim dan Coki Pardede, comedian yang sedang naik daun di negara yang katanya paling toleransi ini, I love Indonesia, I love tolerance, but I love Muslim and Coki! Hiya hiya hiya..!!!
Saya tidak pernah tahu agama babi dan kurma apa, tapi saya melihatnya hari ini kurma diposisikan sebagai sesuatu yang teramat suci, dan babi adalah sesuatu yang sangat menjijikkan, kotor, kotor sama dengan kafir, dan kafir pasti terlakanat. Betapa malangnya nasib babi, tapi lebih malang lagi nasib Muslim dan Coki jika dihalalkan darahnya hanya karena memasak babi dicampur kurma.
Saya hidup dan dibesarkan di lingkungan sosio-kultural Islam, pesantren. Dan seperti santri pada umumnya, saya diajarkan untuk tidak terjebak pada simbol-simbol agama namun bukan berarti menolak formalis, tidak mudah menghakimi namun bukan berarti mebiarkan, selalu tabayun dan tidak kagetan.
Bagi saya kurma dan babi merupakan hanya sebuah simbol yang bisa jadi ada hubungannya dengan agama dalam suatu waktu, dan di waktu yang lain keduanya sama sekali netral, bergantung pada plot dan konteks, itupun spekulatif, multitafsir dan sangat debatable.
Dalam masalah ini, Joke yang dilemparkan Muslim berangkat dari pemahaman bahwa ‘babi adalah makanan bagi non-muslim’. Non-muslim (dalam pandangan awam) dianggap sebagai kafir, dan kafir pasti masuk neraka, maka pantaslah Coki tertawa karena dirinya adalah non-muslim, coki tidak tersinggung karena coki paham bahwa soal ‘babi haram’ dan ‘babi sama dengan neraka’ adalah hanya ‘klaim teologis’ yang diyakini kelompok tertentu, coki tertawa dan muslim sukses dengan joke-nya, sungguh ini wujud toleransi yang paling nyata diantara dua sahabat yang berbeda keyakinan.
Soal kurma yang dicampur dengan babi hanya soal selera chef dan penikmatnya, tidak ada hubungannya dengan agama, apalagi didalam video itu mereka memasak untuk sahabatnya yang non-muslim.
Yang perlu diingat bahwa kurma tidak diidentik dengan Islam, non-muslimpun boleh mengkonsumsinya. Babi tidak diidentik dengan non-muslim, karenanya Orang Islam boleh memeliharanya dan menyayanginya sebagai ciptaan Tuhan, bahkan boleh mengkonsumsinya jika itu darurat secara medis, kita jangan terjebak pada penilaian pada sikap ‘keislam-islaman’ atau ‘kekafir-kafiran’.
Dan untuk Muslim dan Coki, perlu diketahui bahwa dark comedy itu sangat beresiko, harus siap dengan segala konsekuensinya, apalagi ini hal baru bagi masyarakat Indonesia. Lawakan cerdas seperti yang kalian perankan belum siap diterima, apalagi timing-nya kurang tepat disaat segalanya serba sensitif, ditambah lagi kurangnya budaya membaca dan netizen yang semakin pandai menggoreng keadaan untuk menciptakan kegaduhan.
Akhirnya tidak ada sesuatu yang bijak dari tulisan ini, kecuali saya mengajak para pembaca yang bijaksana untuk tidak terlalu menuhankan simbol-simbol, terjebak sikap apripori (lawan dari a posteriori), tejerat dalam standar ganda, dan yang paling krusial adalah selalu membuka dialog pada ketidak sepahamanan, bukan jalan kekarasan apalagi menghalalkan darah saudaranya sendiri.
Wallahu a’lam!

Penulis      : Akh Zainuddin

Palengaan Laok,  Mahasiswa IAIN Madura

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.